Kepala Sekolah SMK 5 Abdul Rofiq Menunjukkan data Manual kelulusan Unas (jto)
SURABAYA (suarakawan.com)-SMK Negeri 5 yang dikabarkan tahun ini tidak meluluskan 75% siswanya, yang diumumkan melalui website Dinas Pendidikan Kota Surabya, karena nilai ujian nasionalnya tidak muncul, dibantah oleh pihak SMK Negeri 5 Surabaya.
Menurut Abdul Rofiq, Kepala Sekolah SMK Negeri 5 Surabaya, hanya 21 siswa yang tidak lulus karena nilainya tidak masuk pada sistem online.
“Sebenarnya ini hanya terjadi kesalahan sistem online yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan,” kata Abdul Rofiq, Kepala Sekolah SMK Negeri 5 kepada wartawan, di ruang kerjanya, Senin siang (16/05)
Selama ini, lanjutnya, sistem input data manual nilai dari sekolah sudah ajukan ke Dinas Pendidikan.
“SMK Negeri 5 ini melakukan sistem belajar mengajar selama 4 tahun, jadi yang diumumkan hari ini adalah peserta ujian yang mengikuti ujian tahun lalu pada saat mereka kelas 3,” tambahnya.
Lanjut Abdul Rofiq, sistem software pengumuman online tahun ini sangat jelek, bukan hanya dialami SMK Negeri 5 Surabaya, tetapi dialami 6 SMK di 5 Kota besar yakni Semarang, Bandung, Makasar, Palembang, Surabaya.
“Mengenai masalah ini, langkah kita akan mengajukan keberatan ke Dinas Pendidikan Propinsi Jatim,” papar Rofiq.(Jto/nas)
http://suarakawan.com/2011/05/16/smk-5-bantah-75-siswanya-tak-lulus-unas/
Nilai UN Siswa SMKN 5 Nol, Kasek Hanya Diberi Janji
Rois Jajeli - detikSurabaya
Surabaya - Kejelasan status siswa SMKN 5 Surabaya yang nilai ujian nasionalnya (UN) nol atau ketelisut masih belum jelas. Pihak sekolah hanya mendapat janji dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, agar kasus itu bisa terselesaikan.
"Sabtu kemarin mendapatkan informasi dari Dinas Pendidikan Jatim. Setelah kita cek, ada kekeliruan, kita sudah laporkan ke Dinas Pendidikan Jawa Timur," kata Kepala Sekolah SMKN 5 Surabaya, Abdul Rofiq kepada wartawan di ruang kepala sekolah SMKN 5, Jalan Prof Dr Moestopo, Senin (16/5/2011).
Sistem pendidikan di SMKN 5 berbeda dengan sekolah SMK maupun SMA lainnya. Di SMKN yang dulu SMK Pembangunan ini, para siswa menempuh pendidikan selama 4 tahun.
Para siswa yang mengikuti ujian nasional (UN) adalah siswa yang kelas tiga. Namun saat pengumuman kelulusan UN, nilai mereka tidak diumumkan seperti di sekolah lainnya, tapi nilai UN itu sebagai syarat untuk naik ke jenjang kelas IV.
"Pengumumannya kelulusan itu di kelas IV. Nah yang masalah sekarang ini, nilainya anak kelas IV. Ada yang nilainya nol tidak ada sama sekali, ada juga nilainya yang tidak sama antara hasil UN tahun lalu dengan yang diumumkan sekarang," tuturnya.
Dari 579 siswa kelas IV, ada 23 siswa yang nilainya bermasalah. Namun dari 23 siswa, 1 siswa meninggal dunia dan satu siswa sudah tidak melanjutkan sekolah.
Dari siswa 21 siswa yang nilainya bermasalah yakni 5 siswa yang tidak ada nilai ujian nasionalnya maupun nilai ujian kompetensi keahlian (UKK). Mereka adalah Anggawuri Sulistyo, Fathoni Ade Firmanto, Handi Nurdiansyah, Husen dan Rika Fujiani.
Sedangkan 14 siswa yang nilai Bahasa Indonesia-nya keliru dan 2 anak yang nilainya UN seperti mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika sama sekali kosong yakni, M Yusuf, Rizki Fragas Noto, Indra Rachman, M Faisol Arif, Diky Puguh Setiawan, Dady Dwi Setyawan, Novan Bagus Setiawan, Roy Samuel Ganibala, tri Ariyanto, Wahyu Aditya, Yunus Rinaldo, Lingga Ardhi Yudhistira, Dewi Aisyah, Ary Mardani Putra, Fatchurozik dan galih Satria Utama.
"Kita sudah menyampaikan permasalahn yang kami hadapi. Janjinya (Dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur) akan diselesaikan secepatnya, tergantung pusat," jelasnya.